BAB
IX
TEORI
PORTOFOLIO
v PENGERTIAN TEORI
PORTOFOLIO
Teori
portofolio (portfolio theory) menyatakan bahwa risiko dan
pengembalian keduanya harus dipertimbangkan dengan asumsi tersedia kerangka
formal untuk mengukur keduanya dalam pembentukkan portofolio. ... Dengan
asumsi tertentu, teori portofolio menghasilkan hubungan linear antara
risiko dan pengembalian.
Teori portofolio adalah
pendekatan investasi
yang diprakarsai oleh Harry M. Makowitz (1927) seorang ekonom lulusan
Universitas Chicago yang telah memperoleh Nobel Prize di bidang ekonomi pada
tahun 1990. Teori portofolio berkaitan dengan estimasi investor tehadap
ekspektasi risiko dan return, yang diukur secara statistik untuk membuat
portofolio investasinya. Markowitz menjabarkan cara mengkombinasikan aset ke
dalam diversifikasi portofolio yang efisien. Dalam portofolio ini, risiko dapat
dikurangi dengan menambah jumlah jenis aset ke dalam portofolio dan tingkat
expected
return dapat naik jika investasinya terdapat perbedaan pergerakan harga dari aset-aset yang dikombinasi tersebut (“Harry Max Markowitz”) Pada prakteknya para pemodal pada sekuritas sering melakukan diversifikasi dalam investasinya dengan mengkombinasikan berbagai sekuritas, dengan kata lain mereka membentuk portofolio.
Menurut Husnan (2003:45), portofolio berarti sekumpulan investasi. Tahap ini menyangkut identifikasi sekuritas-sekuritas mana yang akan dipilih dan berapa proporsi dana yang akan ditanamkan pada masing-masing sekuritas tersebut. Pemilihan banyak sekuritas (pemodal melakukan diversifikasi) dimaksudkan untuk mengurangi risiko yang ditanggung. Pemilihan sekuritas ini dipengaruhi antara lain oleh preferensi risiko, pola kebutuhan kas, status pajak, dan sebagainya.
Dalam kenyataannya kita akan sulit membentuk portofolio yang terdiri dari semua kesempatan investasi, karena itu biasanya dipergunakan suatu wakil (proxy) yang terdiri dari sejumlah besar saham atau indeks pasar. Contohnya di Bursa Efek Jakarta yang menggunakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) atau Indeks LQ45.
return dapat naik jika investasinya terdapat perbedaan pergerakan harga dari aset-aset yang dikombinasi tersebut (“Harry Max Markowitz”) Pada prakteknya para pemodal pada sekuritas sering melakukan diversifikasi dalam investasinya dengan mengkombinasikan berbagai sekuritas, dengan kata lain mereka membentuk portofolio.
Menurut Husnan (2003:45), portofolio berarti sekumpulan investasi. Tahap ini menyangkut identifikasi sekuritas-sekuritas mana yang akan dipilih dan berapa proporsi dana yang akan ditanamkan pada masing-masing sekuritas tersebut. Pemilihan banyak sekuritas (pemodal melakukan diversifikasi) dimaksudkan untuk mengurangi risiko yang ditanggung. Pemilihan sekuritas ini dipengaruhi antara lain oleh preferensi risiko, pola kebutuhan kas, status pajak, dan sebagainya.
Dalam kenyataannya kita akan sulit membentuk portofolio yang terdiri dari semua kesempatan investasi, karena itu biasanya dipergunakan suatu wakil (proxy) yang terdiri dari sejumlah besar saham atau indeks pasar. Contohnya di Bursa Efek Jakarta yang menggunakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) atau Indeks LQ45.
v EVALUASI
KINERJA PORTOFOLIO
Dalam tahap evaluasi,
pemodal melakukan penilaian terhadap kinerja (performance) portofolio, baik
dalam aspek tingkat keuntungan yang diperoleh maupun
risiko yang ditanggung. Menurut Husnan (2003:45), tidaklah benar jika
portofolio yang memberikan keuntungan yang lebih tinggi mesti lebih baik dari
portofolio lainnya.
Menurut John (2005:53), Kerja besar dikerahkan untuk pembentukan portofolio. Teori portofolio (portfolio theory) menyatakan bahwa risiko dan pengembalian keduanya harus dipertimbangkan dengan asumsi tersedia kerangka formal untuk mengukur keduanya dalam pembentukkan portofolio. Dalam bentuk dasarnya, teori portofolio dimulai dengan asumsi bahwa tingkat pengembalian atas efek dimasa depan dapat diestimasi dan kemudian menentukan risiko dengan variasi distribusi pengembalian. Dengan asumsi tertentu, teori portofolio menghasilkan hubungan linear antara risiko dan pengembalian. Teori portofolio mengasumsikan bahwa investor yang rasional menolak untuk meningkatkan risiko tanpa disertai peningkatan pengembalian yang diharapkan. Hubungan antara risiko yang diterima dan pengembalian yang
diharapkan merupakan dasar bagi keputusan pinjaman dan investasi modern. Makin besar risiko atas investasi atau pinjaman, makin besar tingkat pengembalian yang diinginkan untuk menutup risiko tersebut.
Menurut John (2005:53), Kerja besar dikerahkan untuk pembentukan portofolio. Teori portofolio (portfolio theory) menyatakan bahwa risiko dan pengembalian keduanya harus dipertimbangkan dengan asumsi tersedia kerangka formal untuk mengukur keduanya dalam pembentukkan portofolio. Dalam bentuk dasarnya, teori portofolio dimulai dengan asumsi bahwa tingkat pengembalian atas efek dimasa depan dapat diestimasi dan kemudian menentukan risiko dengan variasi distribusi pengembalian. Dengan asumsi tertentu, teori portofolio menghasilkan hubungan linear antara risiko dan pengembalian. Teori portofolio mengasumsikan bahwa investor yang rasional menolak untuk meningkatkan risiko tanpa disertai peningkatan pengembalian yang diharapkan. Hubungan antara risiko yang diterima dan pengembalian yang
diharapkan merupakan dasar bagi keputusan pinjaman dan investasi modern. Makin besar risiko atas investasi atau pinjaman, makin besar tingkat pengembalian yang diinginkan untuk menutup risiko tersebut.
v LANGKAH – LANGKAH
INVESTASI PORTOFOLIO
Kata invest sebagai kata dasar dari investment
memiliki arti menanam. Dalam kamus istilah pasar modal dan keuangan kata
investasi diartikan sebagai penanaman uang atau modal dalam suatu perusahaan
atau proyek untuk tujuan memperoleh keuntungan. Dan dalam kamus lengkap
ekonomi, investasi didefinisikan sebagai penukaran uang dengan bentuk-bentuk
kekayaan lain seperti saham atau harta tidak bergerak yang diharapkan dapat
ditahan selama periode waktu tertentu supaya menghasilkan pendapatan.
Untuk
tercapainya tujuan investasi, dibutuhkan suatu proses dalam pengambilan
keputusan, sehingga nantinya keputusan tersebut sudah bisa dipertimbangkan
ekpektasi
return yang akan didapatkan dan
risiko yang akan dihadapi nantinya. Berikut ini adalah langkah-langkah dalam
pengambilan keputusan investasi portofolio yaitu adalah :
1. Menentukan Kebijakan
Investasi
Pada tahap
pertama ini, investor yang menentukan tujuan investasi dan
kemampuan/kekayaannya yang akan diinvestasikan. Dalam hal ini terdapat hubungan
positif antara risiko dan return, maka hal yang tepat bagi para investor untuk
menyatakan tujuan investasinya tidak hanya untuk memperoleh banyak keuntungan
saja, tetapi juga memahami bahwa akan ada kemungkinan risiko yang berpotensi
menyebabkan kerugian. Jadi, tujuan investasi harus dinyatakan baik dalam
keuntungan maupun risiko.
2. Analisis Sekuritas
Pada tahap
kedua ini analisis sekuritas meliputi penilaian sekuritas secara individual
atau beberapa kelompok sekuritas. Salah satu tujuan dari penilaian tersebut
adalah guna untuk mengidentifikasi sekuritas yang salah harga (mispriced).
Pendapat lainnya menyatakan bahwa harga sekuritas adalah wajar karena mereka
beranggapan bahwa pasar modal efisien Dengan demikian, pemilihan sekuritas
bukan didasarkan dari kesalahan harga akan tetapi berdasarkan preferensi risiko
para investo, pola kebutuhan kas, dan sebagainya.
3. Pembentukan Portofolio
Tahap ketiga
ini, membentuk portofolio yang melibatkan identifikasi asset khusus mana yang
akandiinvestasikan dan menentukan pula seberapa besar investasi pada tiap asset
tersebut. Pada tahap ini masalah selektivitas, penentuan waktu, dan
disversifikasi perlu menjadi perhatian investor.
Dalam
investasi, investor sering melakukan disversifikasi dengan mengkombinasikan
berbagai. sekuritas dalam investasi mereka dengan kata lain investor membentuk
portofolio. Selektivitas disebut sebagai microforecasting memfokuskan pada
peramalan pergerakan harga setiap sekuritas. Dan penentuan waktu disebut pula
sebagai macroforecasting yang memfokuskan pada peramalan pergerakan harga saham
biasa relative terhadap sekuritas pendapatan teta, semisal obligasi perusahaan.
Sedangkan disversifikasi meliputi konstruksi portofolio sedemikian rupa
sehingga meminimalkan risiko dengan memperhatikan batasan tertentu
4. Melakukan Refisi Portofolio
Pada tahap
keempat ini, berhubungan dengan pengulangan secara periodic dari tiga langkah
sebelumnya. Dengan berjalannya waktu, kemungkinan investor akan mengubah tujuan
investasinya yaitu membentuk portofolio baru yang lebih optimal. Motivasi
lainnya disesuaikan sengan preferensi investor tentang risiko dan return itu
sendiri.
5. Evaluasi kinerja portofolio
Pada langkah
yang terakhir ini, investor mulai melakukan penilaian terhadap kinerja
portofolio secara periodik dalam artian tidak hanya return yang diperhatikan
namun risiko yang dihadapi juga perlu diperhatikan. Jadi, diperlukan ukuran
yang tepat tentang return dan risiko juga standar yang relevan.
v RISIKO TINGKAT
PENGEMBALIAN PORTOFOLIO
Dalam portofolio, risiko sebuah aset
dapat dibagi menjadi 2 komponen, yaitu sebagai berikut:
1.
Risiko yang
Dapat Didiversifikasi (Diversifiable Risk)
Risiko yang
dapat didiversifikasi disebabkan oleh peristiwa-peristiwa acak, seperti gugatan
hukum, mogok kerja, program pemasaran yang berhasil dan tidak berhasil,
memenangkan atau kehilangan kontrak penting, dan peristiwa-peristiwa buruk
lainnya yang menimpa perusahaan. Peristiwa ini terjadi secara acak, pengaruhnya
pada suatu portofolio dapat dihilangkan melalui diversifikasi, yaitu dimana
peristiwa buruk yang menimpa satu perusahaan akan ditutupi oleh perisitiwa baik
yang dialami perusahaan lainnya.
2.
Risiko Pasar
(Market Risk)
Risiko pasar
mencerminkan risiko penurunan pasar saham secara umum yang tidak dapat
dihilangkan dengan diversifikasi. Risiko pasar ini muncul akibat faktor-faktor
yang secara sistematis mempengaruhi sebagian besar perusahaan, seperti inflasi
dan tingkat suku bunga yang tinggi. Sebagian besar saham akan dipengaruhi
secara negatif oleh faktor-faktor di atas sehingga risiko pasar tidak dapat
dihilangkan oleh diversifikasi.
Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa, tidak semua risiko dapat dihilangkan dengan
diversifikasi, risiko-risiko yang berhubungan dengan pergerakan pasar secara
luas akan tetap ada. Adapun risiko yang tersisa setelah diversifikasi adalah
risiko pasar. Risiko ini dapat diukur dari sejauh apa suatu saham tertentu
cenderung bergerak naik atau turun mengikuti pasar.
Suatu aset
dengan tingkat risiko relevan (pasar) yang tinggi harus menawarkan tingkat
pengembalian yang diharapkan relatif tinggi untuk dapat menarik para investor.
Investor umumnya menghindari risiko, sehingga mereka tidak akan membeli aset
yang berisiko, kecuali jika aset tersebut memiliki tingkat pengembalian yang
diharapkan tinggi. Dengan kata lain, jika investor menginginkan tingkat
pengembalian yang lebih tinggi, maka investor tersebut harus menanggung risiko
yang lebih tinggi pula.
Ø A. TUJUAN PEMODAL
Sebelum
kita memahami apa tujuan dari seorang Pemodal atau Investor, akan lebih baik
kita mengetahui terlebih dahulu apa itu pemodal atau investor. Investor yang dikenal sebagai pemodal ventura akan
berinvestasi dalam bisnis baru yang mereka yakini akan berhasil dalam waktu
dekat. Mereka biasanya merupakan bagian dari jaringan besar yang terdiri dari
anggota dewan, pengembang bisnis, dan pemberi dana lainnya.
1.Memperoleh
Deviden.
Ditujukan kepada keuntungan yang akan
diperolehnya berupa bunga yang dibayar oleh emiten dalam bentuk deviden.
2.
Kepemilikan Perusahaan.
Semakin banyak saham yang dimiliki maka semakin besar
pengusahaan (menguasai) perusahaan.
3.Berdagang
Saham dijual kembali pada saat harga
tinggi, pengharapannya adalah pada saham yang benar-benar dapat menaikkan
keuntungannya dari jual beli sahamnya.
4. Return
Tujuan investor dalam berinvestasi
adalah memaksimalkan return,tanpa melupakan faktor risiko investasi yang harus
dihadapinya.
Ø B. HASIL YANG DIHARAPKAN
( Expected Return)
Expected return adalah laba yang akan diharapkan oleh pemodal atas
investasinya pada perusahaan emiten dalam waktu yang akan datang dan
tingkat keuntungan ini sangat dipengaruhi oleh prospek perusahaan di masa yang
akan datang. Return ekspektasi portofolio merupakan rata-rata tertimbang dari
return ekspektasi masing-masing sekuritas tunggal di dalam portofolio.
Dengan menginvestasikan dananya,
para pemodal mengharapkan akan memperoleh return dari penyerahaan dana
tersebut, yang dapat berupa dividenatau dengan mendapatkan keuntungan
(gain)dari peningkatan harga saham.Sedangkan dari sisi manajemen perusahaan,
dengan tersediannya dana dari pihakluar memungkinkan mereka melakukan investasi
untuk mengembangkanperekonomian perusahaan. Ditinjau dari kompensasi perusahaa,
return merupakanimbalan atas kesediaan investor untuk menanggung resiko atas
investasi yangdilakukannya. Suatu investasi aset financial menunjukan kesediaan
investor menyediakan sejumlah dana pada saat ini untuk memperoleh sebuah aliran
danapada masa yang akan datang sebagai kompensasi atas faktor waktu selama
danaditanamkan dan resiko yang ditanggung.Untuk mendapatkan return yang
maksimal dalam berinvestasisaham, baikdari capital gaindan dividen, maupun
untuk mengantisipasi kerugian yangtimbul, investor perlu memahami dengan baik
serta dapat menganalisa kondisi-kondisiyang terjadi di pasar modal.
Tujuannya adalah supaya investor mendapatkan
gambaran yang lebih jelas tentang kemampuan perusahaan untuk tumbuh dan berkembang
di masa yang akan datang, investasi yang diinginkanoleh investor adalah
investasi pada perusahaan yang menunjukan perkembanganyang baik dan
menghasilkan keuntungan dengan resiko yang rendah.
Idealnya pasar modal adalah
merupakan tempat terjadinya transaksi saham yang fair. Yang dimaksud dengan
fair adalah ketika penjual jujur menjelaskan barang yang diperjualbelikan
secara lengkap, akurat dan dengan sebenar-benarnya kepada pembeli. Disamping
itu, pasar modal merupakan sarana yang efektif untuk mempercepat pertumbuhan
ekonomi perusahaan, karena dapat mempertemukan dua pihak yang kelebihan dana
dengan pihak yang membutuhkan dana.Suta(Chancera 2011) menjelaskan pasar modal
bermanfaat sebagai sarana untuk meningkatkanefisiensi alokasi sumber dana, penunjang
terciptanya
perekonomian sehat,meningkatkan
penerimaan negara, memperbaiki struktur modal perusahaan, danmengurangi
ketergantungan hutang luar negeri pada sektor swasta.
Untuk melakukan
investasi maupun memberikan kredit pada sebuah perusahaan, maka dibutuhkan
informasi mengenai perusahaan tersebut sebagai dasar pertimbangan dalam
pengambilan keputusan. Salah satu bentuk informasi yang dibutuhkan oleh para
pengambil keputusan, terutama bagi investor dan kreditor adalah laporan
keuangan. Agar informasi keuangan bisa membuat para investor dan kreditor
tertarik untuk melakukan investasi di perusahaan itu, maka kadangkala manajer
perusahaan melakukan beberapa tindakan agar laporan keuangan perusahaan tampak
bagus. Informasi yang tidak valid dapat menyebabkan investor salah mengambil
keputusan dalam menanamkan dana.
Contoh :

Ø C. PORTOFOLIO HASIL YANG DIHARAPKAN
Return merupakan salah
satu faktor yang memotivasi investor berinvestasi dan juga merupakan imbas atas
keberanian investor menanggung risiko atas investasi yang dilakukannya.
sumber-sumber return investasi terdiri dari dua komponen utama yaitu: Yield dan
capital gain (loss). Yield merupakan komponen return yang mencerminkan aliran
kas atau pendapatan yang diperoleh secara periodik dari suatu investasi,
sedangkan capita gain (loss) sebagai komponen kedua return merupakan kenaikan
(penurunan) harga suatu surat berharga (bisa saham maupun surat hutang jngka
panjang) yang bisa memberikan keuntungan (kerugian) bagi investor. Dalam kata
lain, capital gain (loss) bisa juga diartiakn sebagai perubahan harga
sekuritas. Return total = yiled + capital gain (loss). Seperti yang telah dijelaskan diatas,
disamping memperhitungkan return, investor juga perlu mempertimbangkan tingkat
risiko suatu investasi sebagai dasar pembuatan keputusan investasi. Risiko
merupakan kemungkinan perbedaan antara return aktual yang yang diterima dengan
return yang diharapkan. Semakin besar kemungkinan perbedaannya, berarti semakin
besar risiko investasi tersebut.

Ø D. KURVE INDIFERENT ( Indefference Curves )
Kurva indiferen (indifference
curve) adalah kurva yang menghubungkan titik-titik kombinasi dari
sejumlah barang tertentu yang dikonsumsi dan memberikan tingkat kepuasan yang
sama, atau keadaan di mana konsumen berada dalam keadaan indifferen dalam
mengkonsumsi berbagai jenis barang.
·
Gambar di bawah ini
menunjukkan
(a) kurva indiferen
konsumen dalam mengkonsumsi barang X dan Y, dan
(b) sekumpulan kurva
indiferen atau sering dinamakan peta indiferen (indifference map).
Sumbu vertikal
menunjukkan jumlah barang Y, sumbu horizontal menunjukkan jumlah barang X,
sedang I1, I2 dan I3 menunjukkan
kurva indiferen kesatu, kedua, dan ketiga. Penggunaan diagram dua dimensi ini
adalah untuk memudahkan analisis, sedangkan untuk lebih dari dua jenis barang
dapat digunakan metode lain , seperti metode matematis atau ekonometrika.
·
Contoh
Gambar Kurva Indiferen

Dengan pendekatan kurva indiferen, konsumen ingin memperoleh kepuasan
maksimum, yaitu mencapai kurva indiferen tertinggi dengan kendala pendapatan
yang tersedia. Jadi dalam satu kurva indiferen, tingkat kepuasan yang diperoleh
adalah sama.
Perhatikan gambar (a), konsumsi dititik A, B, C dan D adalah terletak pada
kurva indiferen yang sama, berarti kepuasan yang diperoleh juga sama.
Pergerakan dari titik A ke titik B, dari titik B ke titik C, dari titik A ke
titik C dan sebagainya (perpindahan dari satu ke titik lainnya), berarti
konsumen ingin mendapatkan lebih banyak barang X untuk mendapatkan barang Y di
mana tingkat kepuasan konsumen tetap sama, atau sebaliknya perpindahan dari
titik D ke titik C, perpindahan dari C ke titik B dan sebagainya, berarti harus
ada barang X yang dikorbankan untuk mendapatkan tambahan barang Y.
Tingkat penggantian barang Y dengan barang X atau tingkat penggantian
barang X dengan barang Y dinamakan tingkat penggantian subsitusi marginal (Marginal
rate of subsitustion), yaitu berapa suatu barang yang dikorbankan untuk
mendapatkan tambahan barang lain.
Gambar (b) adalah sekumpulan kurva indiferen atau dinamakan indiference
map, makin jauh dari titik origin berarti makin tinggi tingkat kepuasan yang
diterima konsumen. Kurva indiferen I3 > I2 >
I1, ini berarti kepuasan pada kurva I3 lebih besar
dari I2 dan I1, dan kepuasan yang diterima konsumen
di I2lebih besar dari kepuasan yang diterima konsumen pada kurva
indiferen I1.
·
Sifat-Sifat Kurva Indiferen (Indifference Curve)
Menurut Prof.
Dr.Soeharno (2006:43-44) sifat-sifat Kurva Indiferen (Indifference Curve)
dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.
Terdapat banyak kurva indiferen U1,U2,U3, …, Un. Susunan kurva indiferen
disebut peta indiferen.
2.
Kurva indiferen yang letaknya lebih tinggi menunjukkan kepuasan yang lebih
tinggi.
3.
Kurva indiferen mempunyai arah (slope) yang negatif. Apabila
konsumen berkeinginan untuk menambah konsumsi barang X maka konsumsi barang Y
harus dikurangi untuk mendapatkan kepuasan yang sama.
4.
Dua kurva indiferen tidak berpotongan. Kurva indiferen yang tinggi
menggambarkan kepuasan yang lebih tinggi. Kalau dua kurva indiferen berpotongan
misalnya di titik Z maka berarti kombinasi barang X dan Y yang sama akan
memberikan kepuasan yang lebih tinggi.
5.
Sesuai dengan sifat (3), kurva indiferen mencekung terhadap titik O.
6.
Kemiringan (slope) kurva indiferensi menunjukkan Laju Substitusi
Marginal (Marginal Rate of Substitution = MRS).
·
Ciri-Ciri Kurva Indiferen (Indifference Curve)
Ciri-ciri kurva indiferen adalah sebagai berikut :
ü Kurva indiferen mempunyai nilai kemiringan negatif (negatively slope),
atau paling tidak tak pernah mempunyai nilai kemiringan positif. Hal ini
berarti bahwa bila konsumsi suatu jenis barang ditambah maka konsumsi barang
lain harus dikurangi. Bentuk ektrim dari kurva indiferen adalah sejajar sumbu
vertikal dan sejajar sumbu horizontal
ü Bentuk kurva indiferen cembung ke titik origin (titik O), hal ini
menunjukkan derajat pengantian barang yang semakin menurun. Derajat penggantian
ini dugunakan untuk mengetahui berapa jumlah barang yang harus dikurangi untuk
menambah barang lain agar kepuasan yang diterima tetap sama.
ü Kurva indiferen tidak saling berpotongan, karena apabila saling berpotongan
maka tidak konsisten dengan difinisi yang telah dijelaskan diatas.
Penjelasan bahwa kurva
indiferen tidak saling berpotongan dapat dijelaskan dengan bantuan kurva
berikut ini :

Seperti telah dijelaskan
sebelumnya pada kurva indiferen yang sama akan memberikan kepuasan yang sama.
Berdasarkan gambar di atas menunjukkan kurva indiferen I1 berpotongan
dengan kurva indiferen I2 pada titik C. Kepuasan di titik A
sama dengan kepuasan dititik C, demikian juga kepuasan dititik B sama dengan
kepuasan dititik C, sedangkan kepuasan dititik A lebih besar dari dititik C
karena kurva indiferen I2 lebih besar dari I1.
Keadaan ini tidak mungkin terjadi karena pada titik yang sama (titik C)
kepuasan yang diterima konsumen berbeda.
·
Contoh Analisis Kurva Indiferen (Indifference Curve)
Dalam teori ini terdapat
asumsi yang menyatakan bahwa konsumen dapat memilih kombinasi konsumsi tanpa
harus mengatakan bagaimana ia memilihnya. Sebagai contoh, Anda diberi kombinasi
barang tertentu, misalnya 10 unit pakaian dan 8 unit buku. Kemudian, Anda
diberi beberapa alternatif pilihan kombinasi barang dengan jumlah yang berbeda,
misalnya 8 unit pakaian dan 10 unit buku.
Jika Anda menilai alternatif yang diberikan
yaitu berupa tambahan 2 unit buku lebih rendah daripada pengurangan 2 unit
pakaian, Anda akan memilih kombinasi barang yang pertama. Anda menilai kedua
kombinasi barang tersebut tidak berbeda atau indifferen.
Setelah beberapa alternatif kombinasi barang
diberikan, Anda memperoleh beberapa kombinasi barang yang Anda anggap
indiferen. Dengan kata lain, kombinasi barang tersebut menurut Anda akan
memberikan utilitas yang sama. Setiap kombinasi barang tersebut dapat dilihat
pada tabel berikut.
·
Tabel
Pilihan Kombinasi Barang yang Memberikan Utilitas (Utilitas yang Sama)
·
Kombinasi
Barang
|
Pakaian
|
Buku
|
A
|
20
|
4
|
B
|
10
|
8
|
C
|
8
|
10
|
D
|
5
|
16
|
E
|
4
|
20
|
·
Jika digambarkan dalam
kurva, diperoleh kurva indiferen sebagai berikut.
Tabel dan Kurva di atas
merupakan salah satu dari berbagai kemungkinan yang tak terhitung banyaknya.
Pembuatan tabel dan kurva semacam ini dapat diulang sebanyak yang diperlukan.
Misalnya, Anda dapat membuat tabel dan kurva yang menggambarkan kombinasi
barang yang memberikan tingkat utilitas yang lebih besar kepada konsumen.
Dalam hal ini, asumsinya
adalah bahwa konsumen akan memperoleh tingkat utilitas yang lebih tinggi dengan
menambah jumlah konsumsi kedua jenis barang. Penambahan konsumsi kedua barang
tersebut akan menyebabkan pergeseran ke kanan atas. Hal ini, kurva indiferen
akan semakin jauh dari titik nol.
Dengan kata lain,
semakin jauh kurva indiferen dari titik nol, semakin tinggi tingkat utilitas
yang diberikan oleh kombinasi kedua barang. Himpunan dari beberapa kurva
indiferen dinamakan peta indiferen (indifference map). Sebagai contoh, Kurva
berikut ini memperlihatkan kurva indiferen yang dikembangkan dari Kurva sebelumnya,
yaitu sebagai berikut :
Jadi, kurva IC2 menggambarkan
tingkat utilitas yang lebih tinggi dibandingkan kurva IC1, kurva IC3 lebih
tinggi dibandingkan kurva IC2, dan seterusnya.
Ø E. BATAS EFISIEN (Efficient Frontier )
Batas Efisien atau Efficient
Frointier, adalah grafik yang menggambarkan skumpulan portofolio yang
memeksimalkan expected return pada setiap level dari setiap level resiko
portofolio. Seperangkat
portofolio optimal yang menawarkan imbal hasil tertinggi untuk tingkat risiko
yang ditentukan atau risiko terendah untuk tingkat pengembalian yang
diharapkan. Portofolio yang terletak di bawah perbatasan efisien adalah
sub-optimal karena mereka tidak memberikan cukup kembali untuk tingkat risiko.
Portofolio yang cluster di sebelah
kanan perbatasan efisien adalah sub-optimal karena mereka memiliki tingkat yang
lebih tinggi risiko untuk tingkat pengembalian yang ditetapkan. Dalam teori portofolio modern
, batas efisien (atau batas portofolio ) adalah portofolio
investasi yang menempati bagian 'efisien' dari spektrum pengembalian risiko
.
Secara formal, itu
adalah serangkaian portofolio yang memenuhi kondisi bahwa tidak ada portofolio
lain dengan pengembalian yang diharapkan lebih tinggi tetapi dengan standar deviasi
pengembalian yang sama (yaitu, risiko). [1]
[2]
Perbatasan efisien pertama kali dirumuskan oleh Harry Markowitz
pada tahun 1952.

Perbatasan efisien. Hiperbola kadang-kadang disebut
sebagai 'Markowitz Bullet', dan bagian miring ke atas adalah perbatasan efisien
jika tidak ada aset bebas risiko tersedia. Dengan aset bebas risiko, garis
lurus adalah batas efisien
Ø F. PORTOFOLIO UPTIMUM PARA INVESTOR
Portofolio optimum,
adalah portofolio yang dipilih investor dari sekian banyak pilihan
yang ada pada portofolio
efisien. Investor akan memilih portofolio yang optimal dari sejumlah portofolio yaitu : Menawarkan ekspektasi return maksimal untuk
berbagai tingkat resiko (max return, given risk).
Portofolio
efisien adalah portofolio yang menyediakan return maksimal bagi investor dengan
tingkat resiko tertentu, atau portofolio yang menawarkan resiko terendah dengan
tingkat return tertentu. Portofolio optimal
adalah portofolio yang dipilih investor dari sekian banyak pilihan yang ada
pada portofolio efisien. Investor akan memilih portofolio
yang optimal dari sejumlah portofolio yaitu : Menawarkan
ekspektasi return maksimal untuk berbagai tingkat resiko (max return, given
risk). Menawarkan resiko yang minimal untuk berbagai
tingkat ekspektasi return (min risk, given return).
·
Memilih
Portofolio Optimal
Harry M.
Markowitz mengembangkan suatu teori pada dekade 1950-an yang disebut dengan
Teori Portofolio Markowitz. Teori Markowitz menggunakan beberapa pengukuran
statistik dasar untuk mengembangkan suatu rencana portofolio, diantaranya expected
return, standar deviasi baik sekuritas maupun portofolio, dan korelasi
antar return.
Teori ini
memformulasikan keberadaan unsur return dan risiko dalam suatu investasi,
dimana unsur risiko dapat diminimalisir melalui diversifikasi dan
mengkombinasikan berbagai instrumen investasi kedalam portofolio. Pada tahun
1952 teori tersebut dipublikasi secara luas pada Journal of Finance.
Teori
Portofolio Markowitz didasarkan atas pendekatan mean (ratarata) dan variance
(varian), dimana mean merupakan pengukuran tingkat return dan varian
merupakan pengukuran tingkat risiko. Teori Portofolio Markowitz ini disebut
juga sebagai mean-Varian Model, yang menekankan pada usaha memaksimalkan
ekspektasi return (mean) dan meminimumkan ketidakpastian/risiko (varian)
untuk memilih dan menyusun portofolio optimal.
Markowitz
mengembangkan Index Model sebagai penyederhanaan dari Mean-Varian
Model, yang berusaha untuk menjawab berbagai permasalahan dalam penyusunan
portofolio, yaitu terdapatnya begitu banyak kombinasi aktiva berisiko yang
dapat dipilih dan disusun menjadi suatu portofolio. Dari sekian banyak
kombinasi yang mungkin dipilih, investor rasional pasti akan memilih portofolio
optimal (efficient set).
Untuk
menentukan penyusunan portofolio optimal dengan menggunakan Index Model,
yang terutama dibutuhkan adalah penentuan portofolio yang efisien, sebab pada
dasarnya semua portofolio yang efisien adalah portofolio yang optimal. Pada
perkembangan berikutnya pada tahun 1963 William F. Sharpe mengembangkan Single
Index Model (Model Indeks Tunggal) yang merupakan penyederhanaan Index
model yang sebelumnya telah dikembangkan oleh Markowitz. Model Indeks Tunggal
menjelaskan hubungan antara return dari setiap sekuritas individual dengan return
indeks pasar. Model ini memberikan metode alternatif untuk menghitung
varian dari suatu portofolio, yang lebih sederhana dan lebih mudah dihitung
jika dibandingkan dengan metode perhitungan markowitz. Pendekatan alternatif
ini dapat digunakan untuk dasar menyelesaikan permasalahan dalam penyusunan
portofolio. Sebagaimana telah dirumuskan oleh markowitz, yaitu menentukan efficient
set
dari suatu portofolio, maka dalam
Model indeks Tunggal ini membutuhkan perhitungan yang lebih sedikit.
Lingkup
bahasan utama dalam teori portofolio adalah bagaimana melakukan pemilihan portofolio dari
sekian banyak aset, untuk memaksimalkan return yang diharapkan pada tingkat
risiko tertentu yang bersedia ditanggung investor. Dengan kata lain, teori
portofolio membahas bagaimana caranya membentuk portofolio yang optimal.
Pembahasan tentang konsep – konsep dasar merupakan pembahasan sederhana yang
mungkin bisa membantu dalam memahami pemahaman portofolio optimal. Ada tiga
konsep yang perlu diketahui sebagai dasar untuk memahami pembentukan portofolio
optimal, yaitu :
- Portofolio efisien dan portofolio optimal
- Fungsi utilitas dan kurva indeferen
- Aset berisiko dan aset bebas risiko
- Menentukan Portofolio Efisien
Portofolio yang efisien (efficient portfolio) didefinisikan sebagai portofolio
yang memberikan return ekspektasi terbesar dengan resiko yang sudah tertentu
atau memberikan resiko yang terkecil dengan return ekspektasi yang sudah
tertentu. Portofolio yang efisien ini dapat ditentukan dengan memilih tingkat
return ekspektasi tertentu dan kemudian meminimumkan resikonya atau menentukan
tingkat resiko tertentu dan kemudian memaksimumkan return ekspektasinya.
Investor yang rasional akan memilih portofolio yang efisien ini karena
merupakan portofolio yang dibentuk dengan mengoptimalkan satu dari dua dimensi,
yaitu return ekspektasi atau resiko portofolio.
Investor dapat memilih kombinasi dari aktiva-aktiva untuk membentuk
portofolionya. Seluruh set yang memberikan kemungkinan porofolio yang dapat
dibentuk dari kombinasi n-aktiva yang tersedia disebut dengan opportunity set
atau attainable set. Semua titik di attainable set menyediakan semua
kemungkinan portofolio baik yang efisien maupun yang tidak efisien yang dapat
dipilih oleh investor. Akan tetapi investor yang rasional tidak akan memilih
portofolio yang tidak efisien. Rasional investor hanya tertarik dengan
porofolio yang efisien. Kumpulan (set) dari portofolio yang efisien ini disebut
dengan efficient set atau efficient frontier.
Dua
aktiva yang membentuk portofolio dapat berkorelasi antara lain :
- Korelasi Positif Sempurna : Dua buah aktiva A dan B, yaitu = +1
- Tidak Ada Korelasi Antara Sekuritas : Dua Aktiva A dan B, yaitu = 0
- Korelasi Negatif Sempurna : Dua Buah Aktiva A dan B, yaitu = -1
- Pemilihan Portofolio Optimal
Portofolio optimal merupakan pilihan dari berbagai
sekuritas dari portofolio efisien. Portofolio yang optimal ini dapat ditentukan
dengan memilih tingkat return
ekspektasi tertentu dan kemudian meminimumkan risikonya, atau menentukan
tingkat risiko yang tertentu dan kemudian memaksimumkan return ekspektasinya. Investor yang rasional akan memilih
portofolio optimal ini karena merupakan portofolio yang dibentuk dengan
mengoptimalkan satu dari dua dimensi, yaitu return
ekspektasi atau risiko portofolio.Dalam memilih portofolio yang optimal ada
beberapa pendekatan yaitu:
o Portofolio optimal berdasarkan preferensi investor
Portofolio
optimal berdasarkan preferensi investor mengasumsikan hanya didasarkan pada
return ekspektasi dan risiko dari portofolio secara implisist yang menganggap
bahwa investor mempunyai fungsi utility yang sama atau berada pada titik
persinggungan utiliti investor dengan effiicient set. (Jogiyanto, 2000: 193)
Tiap investor mempunyai tanggapan risiko yang
berbeda-beda. Investor yang mempunyai tanggapan kurang menyukai risiko mungkin
akan memilih portofolio di titik B. Tapi, investor lainnya mungkin mempunyai
tanggapan risiko berbeda, sehingga mereka memilih portofolio yang lainnya
selama portofolio tersebut merupakan portofolio efisien yang masih berada di efficient
set. Portofolio mana yang akan dipilih investor tergantung dari fungsi
utilitinya masing-masin
o Portofolio optimal berdasarkan model Markowitz
Dalam
pendekatan ini pemilihan portofolio investor didasarkan pada preferensi mereka
terhadap return yang diharapkan dan risiko masing-masing pilihan portofolio,
kontribusi yang sangat pentinga bagi investor adalah bagaimana seharusnya
melakukan deversifikasi secara optimal.
Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dari model
markowitz menurut yaitu; (Tandelilin,2001: 79)
a.
Semua titik portofolio yang ada dalam permukaan
efisien mempunyai kedudukan yang sama antara satu dengan lainnya.
b.
Model Markowitz tidak memasukkan isu bahwa investor
boleh meminjam dana untuk membiayai portofolio pada aset yang berisiko dan
Model Markowitz juga belum memperhitungkan kemungkinan investor untuk melakukan
investasi pada aset bebas risiko.
c.
Dalam kenyataanya, investor yang berbeda-beda akan
mengestimasi imput yang berbeda pula ke dalam model Markowitz, sehingga garis
pemukaan efisien yang dihasilkan juga berbeda-beda bagi masing-masing investor.
Portofolio
optimal berdasarkan model Markowitz di dasarkan pada empat asumsi, yaitu:
1. waktu yang digunakan
hanya satu periode
2. Tidak ada biaya
transaksi
3. Preferensi investor
hanya didasarkan pada return ekspektasi dan risiko
4. Tidak ada simpanan
dan pinjaman bebas risiko
Asumsi bahwa preferensi investor mengasumsikan hanya
didasarkan pada return ekspektasi dan risiko dari portofolio secara implisist
yang menganggap bahwa investor mempunyai fungsi utility yang sama. Pada
kenyatannya tiap-tiap investor memiliki fungsi utilitas yang berbeda, sehingga
portofolio optimal akan dapat berbeda.
o Portofolio optimal dengan adanya simpanan dan pinjaman
bebas risiko.
Aktiva bebas
risiko adalah aktiva yang mempunyai
return ekspektasi tertentu dengan varian return (risiko) yang sama
dengan nol, karena variannya sama dengan nol, maka kovarian antara bebas resiko
juga sama dengan nol. Aktiva bebas risiko misalnya Sertifikat Bank Indonesia
(SBI), karena variannya (deviasi standar ) = 0 kovarian antara bebas aktiva
bebas
risiko
dengan aktiva berisiko yang lainnya akan menjadi sama dengan nol sebagai
berikut; (jogiyanto, 2000: 195)
sBRi = rBRi . sBR . si
Dari pernyataan di atas, maka aset bebas risiko
merupaka aset yang tingkat returnnya di masa depan sudah dapat dipastikan pada
saat ini karena ditunjukkan oleh varians yang sama dengan nol.
o Portofolio optimal berdasarkan model Indeks Tunggal
Model indeks
tunggal dapat digunakan sebagai alternatif dari model Markowitz untuk
menentukan efficient set dengan perhitungan yang lebih sederhana. Model ini
merupakan penyederhanaan dari model Markowitz. Model ini dikembangkan oleh
William Sharpe (1963) yang disebut dengan (single-index
model), yang dapat digunakan untuk menghitung return ekspektasi dan risiko
portofolio.(Jogiyanto, 2000: 203)
Model indeks tunggal didasarka pada pengamatan bahwa
harga dari suatu skuritas berfluktuasi searah dengan indeks harga pasar dan memepunyai
reaksi yang sama terhadap suatu faktor atau indeks harga saham gabungan (IHSG),
karena return dari suatu sekuritas dan return dari indeks pasar yang umum dapat ditulis sebagai berikut; (Halim, 2003:
78)
Ri
= ai +bi . RM +
ei
Ri=
return sekuritas ke-i
ai = nilai
ekspektasi dari return sekuritas yang independen terhadap
return pasar
bi= Beta yang
merupakan koefisien yang mengukur perubahan Ri
akibat dari
perubahan RM
RM=
tingkat return dari indeks pasar, juga merupakan suatu variabel
Acak
ei = kesalahan residual yang merupakan variabel acak
dengan nilai
ekspektasinya sama dengan nol atau E(ei) = 0
Model indeks
tunggal membagi return dari suatu sekuritas ke dalam dua komponen yaitu;
a. Komponen return
yang unik diwakili oleh alpha (ai) yang
independen terhadap return pasar.
b. Komponen return yang
berhubungan dengan return pasar yang diwakili beta (bi) dan RM
Sehingga bentuk ekspektasi return dapat ditulis dengan persamaan;
E (Ri) = E ( ai + bi . RM + ei) atau
= E ( aI) + E(bi ) . E(RM) + E( eI)
atau bisa diformulasikan sebagai berikut;
E (Ri) = ai + bi . E(RM )
sumber: (Jogiyanto, 2000: 204-206)
o Portofolio optimal berdasarkan model Indeks Ganda
Model indeks
ganda menganggap ada faktor lain selain IHSG yang dapat mempengaruhi terjadinya
korelasi antar efek. dalam upaya mengestimasi ekspekted return, standar deviasi
dan kovarian efek secara akurat model indeks ganda lebih berpotensi sebab
actual return efek tidak hanya sensitif terhadap perubahan IHSG atau ada faktor
lain yang mungkin mempengaruhi return efek, seperti tingkat bunga bebas risiko.
(Halim, 2003: 82).
Untuk membentuk portofolio yang efisien, terdapat
beberapa asumsi yang harus diperhatikan. Asumsi tersebut antara lain:
1.
Perilaku Investor
Bahwa semua investor tidak menyukai risiko (risk
averse). Investor yang dihadapkan pada dua pilihan yaitu investasi yang
menawarkan keuntungan (return) yang sama dengan risiko yang berbeda, akan
memilih investasi yang memiliki risiko yang lebih rendah.
2.
Fungsi Utilitas dan Kurva
Indeferen
Fungsi utilitas bisa diartikan sebagai fungsi
matematis yang menunjukkan nilai dari semua alternatif pilihan yang ada.
Semakin tinggi nilai suatu alternatif pilihan, semakin tinggi utilitas
alternatif tersebut. Fungsi utilitas bisa digambarkan dalam bentuk grafik
;sebagai kurva indeferen.
- Aset Berisiko dan Aset Bebas Risiko
Dalam berinvestasi, investor bisa memilih
menginvestasikan dananya pada berbagai aset, baik aset yang berisiko maupun
aset yang bebas risiko, ataupun kombinasi dari kedua aset tersebut. Pilihan
investor atas aset–aset tersebut akan tergantung dari sejauh mana preferensi
investor terhadap risiko. Semakin enggan seorang investor terhadap risiko, maka
pilihan investasinya akan cenderung lebih banyak pada aset – aset yang bebas
risiko.
Aset berisiko adalah
aset–aset yang tingkat return aktualnya di masa depan masih mengandung
ketidakpastian. Aset bebas risiko merupakan aset yang returnnya di masa depan
sudah bisa dipastikan pada saat ini, dan ditunjukkan oleh varians return yang
sama dengan nol. Salah satu contoh aset bebas risiko adalah obligasi jangka
pendek yang diterbitkan pemerintah.
- Memilih Kelas Aset yang Optimal
Pada
dasarnya, manajemen portofolio terdiri dari tiga aktivitas utama, yaitu :
- Pembuatan keputusan alokasi aset
- Penentuan porsi dana yang akan diinvestasikan pada masing–masing kelas aset
- Pemilihan aset–aset dari setiap kelas aset yang telah dipilih.
Seperti yang dibahas sebelumnya, model portofolio
Markowitz biasanya digunakan dalam pemihan portofolio yang terdiri dari
aset–aset individual dan bukan digunakan dalam pemilihan portofolio yang
terdiri dari berbagai kelas aset. Kelas aset adalah pengelompokkan aset–aset
berdasarkan jenis–jenis aset seperti saham, obligasi, sekuritas luar negeri
dll.Keputusan alokasi aset tidak hanya meliputi penentuan alokasi dana pada
kelas aset di satu negara saja, tapi bisa dilakukan pada beberapa negara.
Manfaat yang bisa diperoleh dari diversifikasi pada
berbagai kelas aset di berbagai negara, pada dasarnya sama dengan manfaat
diversifikasi pada aset individual, yaitu manfaat pengurangan risiko pada
tingkat tertentu dari return yang diharapkan. Sama halnya dengan portofolio
pada aset individual, portofolio kelas aset yang optimal akan ditentukan oleh
preferensi investor terhadap return yang diharapkan dan risiko. Jika ada
portofolio kelas aset yang sesuai dengan preferensi investor, maka portofolio
tersebut nantinya akan menjadi portofolio optimal.
- Investor Bisa Menginvestasikan dan Meminjam Dana Bebas Risiko
a. Menginvestasikan
Dana Bebas Risiko
Dengan memasukkan return yang diharapkan dalam model
Markowitz, maka permukaan efisien akan berubah membentuk garis lurus yang
menghubungkan return yang diharapkan dan titik portofolio optimal yang dipilih
investor. Jika investor menginvestasikan dananya pada aset bebas risiko, maka
return yang diharapkan adalah sebesar Rf dengan risiko sebesar nol. Risiko
portofolio bisa diketahui dengan menghitung besarnya standar deviasi
portofolio.
b. Investor
Bisa Meminjam Dana Bebas Risiko
Jika analisis terhadap model Markowitz diperluas
dengan menambah asumsi bahwa investor bisa meminjam dana untuk meningkatkan
kemampuannya berinvestasi, maka akan ditemukan garis permukaan efisien yang
baru.
Dengan
mencari tambahan dana yang berasal dari pinjaman, investor bisa menambah dana
yang dimilkinya untuk diinvestasikan. Jika dana pinjaman tersebut digabungkan
dengan dana yang dimiliki saat ini dan digunakan untuk investasi, investor akan
mempunyai kemungkinan untuk mendapatkan return diharapkan dari investasi yang
lebih tinggi. Tentu saja sesuai dengan hubungan searah antara investasi dengan
risiko, kita harus mempertimbangkan risiko yang meningkat seiring dengan
peningkatan return yang diharapkan.
- Memilih Portofolio Berdasarkan Preferensi Investor
Dalam memilih portofolio, investor akan mendasarkan
pemilihannya pada preferensi terhadap return yang diharapkan dan risiko yang
bersedia titanggung investor. Artinya, investor akan memilih titik portofolio
yang terletak pada permukaan efisien yang menawarkan risiko yang sesuai dengan
preferensinya terhadap risiko.Semakin konservatif seorang investor, semakin
enggan dia menanggung risiko. Semakin agresif seorang investor, berarti semakin
berani dia menanggung risiko sehingga pilihan portofolionya akan semakin
mendekati portofolio pada aset berisiko.
Protofoloi juga menggunakan teori kepuasan sehingga
titik maksimum dimana resiko tidak bisa dikurangi lagi.
Ø G. KONDISI PORTOFOLIO OPTIMUM
Portofolio
optimal adalah portofolio
yang dipilih investor dari sekian banyak pilihan yang ada pada portofolio
efisien. Investor akan memilih portofolio yang optimal dari
sejumlah portofolio yaitu : Menawarkan ekspektasi return maksimal untuk
berbagai tingkat resiko (max return, given risk).
Portofolio
Yang OptimalDidalammembentuk suatu portofolio akan timbul suatu masalah.
Permasalahannya adalahterdapat banyak sekali kemungkinan portofolio yang dapat
dibentuk dari kombinasi aktiva berisiko yang tersedia di pasar. Kombinasi ini
dapat mencapai jumlah yang tidak terbatas. Belum kombinasi ini juga memasukkan
aktiva bebas risiko di dalam pembentukan portofolio. Jika terdapat kemungkinan
portofolio yang jumlahnya tidak terbatas, maka akan timbul pertanyaan
portofolio mana yang akan dipilih oleh investor. Jika investor adalah rasional,
maka mereka akan memilih portofolio yang optimal.Portofolio yang optimal dapat
ditentukan dengan menggunakan model Markowitzatau dengan model indeks tunggal.
Untuk menentukan portofolio yang optimal dengan model-model ini, yang pertama
kali dibutuhkan adalah menentukan portofolio yang efisien. Untuk model-model
ini, semua portofolio ya ng optimal adalah portofolio yang efisien.Suatu
portofolio dikatakan efisien apabila portofolio tersebut ketika dibandingkan
dengan portofolio lain memenuhi kondisi sebagai berikut :1.Memberikan
returnekspektasiterbesar dengan risiko yang sama, atau2.Memberikan risiko
terkecil dengan returnekspektasiyang sama.Portofolio yang optimalmerupakan
portofolio yang dipilih dari sekian banyak pilihan yang ada pada kumpulan
portofolio efisien. Pada penelitian ini portofolio ya ng optimal
adalahportofolio yang memberikan risiko terkecil dengan returnekspektasiyang
sama.
Pada dasarnya,
manajemen portofolio terdiri dari tiga aktivitas utama, yaitu :
1. Pembuatan keputusan alokasi aset
2. Penentuan porsi dana yang akan
diinvestasikan pada masing–masing kelas aset
3. Pemilihan aset–aset dari setiap kelas
aset yang telah dipilih.
Seperti yang dibahas
sebelumnya, model portofolio Markowitz biasanya digunakan dalam pemilihan
portofolio yang terdiri dari aset–aset individual dan bukan digunakan dalam pemilihan portofolio yang
terdiri dari berbagai kelas aset. Kelas aset adalah pengelompokkan aset–aset
berdasarkan jenis–jenis aset seperti saham, obligasi, sekuritas luar negeri
dll. Keputusan alokasi aset tidak hanya meliputi penentuan alokasi dana pada
kelas aset di satu negara saja, tapi bisa dilakukan pada beberapa negara.
Manfaat yang bisa
diperoleh dari diversifikasi pada berbagai kelas aset di berbagai negara, pada
dasarnya sama dengan manfaat diversifikasi pada aset individual, yaitu manfaat
pengurangan risiko pada tingkat tertentu dari return yang diharapkan. Sama
halnya dengan portofolio pada aset individual, portofolio kelas aset yang
optimal akan ditentukan oleh preferensi investor terhadap return yang
diharapkan dan risiko. Jika ada portofolio kelas aset yang sesuai dengan
preferensi investor, maka portofolio tersebut nantinya akan menjadi portofolio
optimal.
·
Memilih
Portofolio Berdasarkan Preferensi Investor
Dalam memilih
portofolio, investor akan mendasarkan pemilihannya pada preferensi terhadap
return yang diharapkan dan risiko yang bersedia ditanggung investor. Artinya,
investor akan memilih titik portofolio yang terletak pada permukaan efisien
yang menawarkan risiko yang sesuai dengan preferensinya terhadap risiko.
Semakin konservatif seorang investor, semakin enggan dia menanggung risiko.
Semakin agresif seorang investor, berarti semakin berani dia menanggung risiko
sehingga pilihan portofolionya akan semakin mendekati portofolio pada aset
berisiko.
Protofolio juga
menggunakan teori kepuasan sehingga titik maksimum dimana resiko tidak bisa
dikurangi lagi.
Portofolio optimal
berdasarkan preferensi investor mengasumsikan hanya didasarkan pada return
ekspektasi dan risiko dari portofolio secara implisist yang menganggap bahwa
investor mempunyai fungsi utility yang sama atau berada pada titik
persinggungan utiliti investor dengan effiicient set. (Jogiyanto, 2000: 193)
Tiap investor mempunyai
tanggapan risiko yang berbeda-beda. Investor yang mempunyai tanggapan kurang
menyukai risiko mungkin akan memilih portofolio di titik B. Tapi, investor
lainnya mungkin mempunyai tanggapan risiko berbeda, sehingga mereka memilih
portofolio yang lainnya selama portofolio tersebut merupakan portofolio efisien
yang masih berada di efficient set. Portofolio mana yang akan dipilih investor
tergantung dari fungsi utilitinya masing-masing.

Untuk investor ke-1,
portofolio optimal adalah berada di titik C1 yang memberikan kepuasan kepada
investor ini sebesar U2. jika investor ini rasional, dia tidak akan memilih
portofolio D1 karena walaupun portofolio ini tersedia dan dapat dipilih yang
berada di attainable set, tapi bukan portofolio yang efisien, sehingga akan
memberikan kepuasan sebesar U1 yang lebih rendah dibandingkan dengan kepuasan
sebesar U2. Investor akan memilih portofolio yang memberikan kepuasan yang
tertinggi.


Komentar
Posting Komentar